Salah Tangkap???

Akhir- akhir ini sering saya mendengar berita di televisi mengenai salah tangkap. Betapa pengakuan jujur penjahat sekaliber Ryan Jombang itu malah membawa masalah baru. Dimana terungkap bahwa dialah pembunuh Asrori yang sebenarnya. Yang dibunuh sudah lebih setahun lalu. Maka sukseslah Maman Sugianto, Imam Hambali dan David Eko Priyanto menjadi terhukum dan calon terhukum. Bahkan tidak tangung-tanggung, hukumannya puluhan tahun.

Betapa memalukan memang jika benar telah salah tangkap. Apalagi dari pengakuan para tersalah tangkap itu mereka terpaksa mengaku karena kekerasan para polisi yang sudah tidak tertahan lagi. Mungkin rasanya seperti mati saja tuh. Istilahnya daripada mati duluan dihajar, mendingan ngaku dulu deh. Persoalan entar dihukum mati, dipikirin lagi kemudian. Dan juga lebih aneh, para jaksa tetap menganggap mereka sudah benar mengambil keputusan. Berlandaskan bahwa para tersangka telah mengaku. Lah, kalo beneran ternyata tersangka mengaku karena dipaksa dengan siksaan, bukankah itu menjadi blunder buat keadilan?

Sebenarnya kita sudah tidak heran akan kekerasan yang dilakukan para polisi dalam menangani para tertuduh. Terutama bagi tersangka kasus-kasus yang mendapat perhatian dari masyarakat dan pers. Padahal kan ada undang-undang bahwa setiap tertuduh harus dikenakan asas praduga tidak bersalah. Tapi tampaknya asas praduga tak bersalah itu hanya dikenakan pada tertuduh yang banyak duit saja. Betapa sering kita dengar slogan tersebut dipakai ketika sedang menyidik para tertuduh korupsi. Yang tentu duitnya berkarung, juga dekat dengan kekuasaan.

Sedangkan jika tertuduh orang kere, dan ndeso pula. Jangan harap dikenakan asas tersebut. Malahan bakal dikenakan asas pokoknya  pasti salah. Jadi segala cara adalah halal untuk dilakukan agar si tertuduh kere itu mengaku. Lagian jika memang benar ternyata salah tuduh, toh tidak akan ada yang berani memperjuangkan. Yang penting sudah ada yang ditangkap maka promosi pun menjadi masa depan. Bahkan jikapun punya duit, tapi tanpa pengaruh kekuasaan maka akan tetap menjadi rawan untuk disalah tangkapi.

Sungguh pelik masalah penyidikan, pengadilan, dan salah tangkap ini. Mumet juga saya mencoba menganalisanya lebih jauh. Jadi saya langsung bertanya saja deh. Pak Polisi, bagaimana ini? Apakah memang sudah tidak dapat diperbaiki lagi sistem penyelidikan di kepolisian? Jika memang sudah tidak sanggup lagi , ya gentle ajalah. Kita bubarkan saja satuan penyidik itu. Terus kita serahkan sekalian sama pengadilan masyarakat. Toh hasilnya sama saja, mengadili berdasarkan kepentingan dan prasangka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: