Sikap Konsumtif dan Kebiasaan Jajan di Sekolah

Konsumerisme, dalam pandangan ekonomi adalah gaya hidup yang mengutamakan keinginan untuk mengkonsumsi barang atau jasa secara berlebihan. Sifat ini cenderung mengabaikan faktor pendapatan dan ketersediaan sumber daya ekonomi, yang seharusnya menjadi pertimbangan utama seseorang sebelum melakukan tindakan konsumsi. Dalam tataran yang lebih luas, jika tidak mampu mengendalikan sifat konsumerismenya, tentu akan menjadi bahaya komunal yang sanggup menggulung bangsa ini pada kebangkrutan.
Dalam perspektif psikologis, pola hidup konsumtif adalah produk kebudayaan hedonis dari sebuah masyarakat yang sakit atau setidaknya tengah mengalami benturan kebudayaan (shock culture). Pola hidup ini terbentuk secara sadar atau tidak sadar berasal dari pola hidup yang dijalani manusia setiap harinya. Proses pembentukan prilaku manusia, termasuk juga prilaku konsumerisme umumnya berasal dari stimulus yang diterima oleh panca indera melalui proses sosial atau melalui media audio visual yang kemudian terinternalisasi dan membentuk kepribadian.
Saat sekarang, pola hidup konsumerisme sebenarnya secara pelan-pelan sedang diajarkan oleh media, masyarakat dan bahkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. Lihatlah di TV, majalah dan koran yang setiap hari gencar menayangkan gaya hidup glamour, penuh dengan sikap konsumtif yang dipamerkan terang-terangan. Juga masyarakat kita adalah masyarakat yang terlanjur mengganggap sifat konsumerisme sebagai bagian hidup yang wajar. Sebuah tengara menunjukan, ukuran seseorang dikatakan sukses apabila ia mampu menumpuk barang-barang mewah di rumah, tanpa peduli apakah barang-barang tersebut diperoleh dengan cara berhutang.
Lebih parah lagi, sekolah sebagai penyelenggara pendidikan ternyata ikut memberi andil bagi pembentukan sifat konsumerisme dengan melegalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, seperti jor-joran membawa handphone (HP) dan kebiasaan jajan pada anak didiknya. Maka lihatlah, suasana sekitar sekolah pada saat jam istirahat yang riuh rendah dengan siswa-siswa yang antri jajan. Suasana yang sebaliknya terjadi di perpustakaan-perpustakaan yang sunyi lengang. Budaya konsumerisme merupakan paradoks atas budaya produktif yang semestinya menjadi kebiasaan bangsa yang tengah merangkak maju seperti bangsa Indonesia. Konsumerisme yang sifatnya menghabiskan sumber daya, jika tanpa imbangan kemampuan dan kreativitas berproduksi, hanya akan menggiring bangsa ini menjadi bangsa yang kalah dalam bersaing dengan bangsa lain, serta berpotensi kehilangan sumber daya ekonomi yang dibutuhkan untuk kehidupan generasi mendatang.
Penyelenggara pendidikan semestinya memikul tanggung jawab pendidikan yang tidak sekadar memberikan pelajaran pengetahuan (transfer knowledge), tapi juga sekaligus membentuk karakter anak didik yang berjiwa produktif dengan meminimalisir sifat konsumerismenya sehingga ke depan bangsa ini mampu bersaing dalam percaturan global.

Di samping berdampak buruk pada mental konsumerisme anak-anak bangsa, kebiasaan jajan pada dasarnya adalah sejenis bahaya laten yang terus mengendap mengincar sasaran anak-anak kita. Food and Agriculture Organization (FAO) mendefinisikan jajanan (street food) sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan tempat-tempat keramaian umum lainnya yang langsung dimakan dan dikonsumsi tanpa pengolahan dan persiapan yang semestinya.
Penelitian di Jakarta Timur mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang dikonsumsi anak-anak sekolah adalah lontong, mie bakso dengan saos, otak-otak, tahu goreng, ketan uli, es sirup, dan cilok. Berdasarkan uji laboratorium, pada otak-otak dan bakso ditemukan borax (pengempal yang mengandung logam berat boron), tahu goreng dan mie kuning basah ditemukan formalin (pengawet pada mayat), dan es sirup merah positif mengandung rhodamin B (pewarna merah pada tekstil). Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti kanker, tumor, gangguan fungsi otak, dan gangguan prilaku seperti susah tidur, sukar berkonsentrasi, mudah emosi dan memperberat gejala bagi penderita autis.
Temuan lain oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2001/2002 menyebutkan bahwa sebagian besar jajanan anak sekolah yang berupa makanan dan minuman tidak memenuhi syarat kesehatan. Dari 34 sampel makanan dan 13 sampel minuman yang diteliti di laboratorium ditemukan 58,8% makanan dan 73,3% minuman mengandung bakteri ecoli, entrobacter, pengawet zat warna pengawet atau sakarin. Foodbairneiseases atau penyakit bawaan makanan merupakan masalah kesehatan yang kemudian timbul sebagai akibat kebiasaan makan dan jajan yang tidak sehat. Penyakit tersebut pelan-pelan akan mengganggu organ dan sistem tubuh anak, yang pada gilirannya akan menghambat pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak.
Dengan menimbang rentang waktu yang cukup panjang selama anak-anak kita bersekolah, maka jalan keluar yang paling aman, agar anak-anak kita tidak terseret pada kebiasaan buruk mengonsumsi makanan dan jajanan di saat mereka sekolah adalah dengan membiasakan sarapan dan membekalinya makanan dan minuman dari rumah yang bisa dipastikan kandungan nutrisi dan terjamin kebersihannya. Sebuah penelitian di AS dan Indonesia memperlihatkan, bahwa dampak sarapan pagi sebelum berangkat sekolah sangat besar. Rata-rata anak yang sempat sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah mampu mencetak prestasi yang lebih tinggi dari pada anak-anak yang tidak sempat sarapan pagi. Hal ini bisa dimaklumi mengingat sarapan dapat merangsang gerakan belahan otak kanan sehingga dapat mendorong kegiatan kreatif. Selain itu, gerakan belahan otak kanan berfungsi mengontrol hal-hal yang bersifat nonverbal, holistic, intuisi, dan imajinasi , yaitu kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi atau mengembangkan, memperkaya dan merinci suatu gagasan. Kreativitas adalah premis pokok yang sangat diperlukan sebuah bangsa untuk bertahan dalam kompetisi global.

Kita tidak bisa mencegah kebiasaan anak untuk jajan di sekolah. Namun kita juga harus bisa bersikap preventif dengan cara anak-anak, kita bawakan bekal ke sekolah. Mungkin bagi anak-anak yang sudah duduk dibangku SMP ataupun SMA membawa bekal adalah hal yang memalukan karena mereka menganggap yang pantas membawa bekal adalah anak-anak yang masih duduk di TK atau di SD. Anggapan seperti itu harus dikikis, sebab tidak ada hubungannya anatara membawa bekal ke sekolah dengan jenjang pendidikan. Yang ingin kita tanamkan dari sikap membaw bekal adalah mencegah anak-anak untuk jajan yang tidak sehat. Selain itu kita ingin melatih anak-anak untuk tidak bersikap konsumerisme, karena sifat tersebut amat sangat tidak menguntungkan .

Jadi kepada para orang tua, berilah contoh kepada anak-anak untuk tidak bersikap boros. Belilah barang-barang sesuai dengan kebutuhan Anda. Jangan terpancing dengan iklan-iklan yang ada di TV, koran dan majalah.

2 Responses

  1. Yupz…
    setuju bnget karena
    orang tua adalah modelling bagi Anak-anak mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: