UKBI, Layakkah Dijadikan sebagai “TOEFL” Indonesia?

Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia atau UKBI bukan sejenis tes bahasa untuk menguji pengetahuan bahasa saja, tetapi juga kemampuan berbahasa. Namun, sudah layakkah UKBI disejajarkan dengan TOEFL?

Sejauh ini, dengan UKBI kemampuan berbahasa Indonesia perlu dipandang sebagai salah satu syarat kelayakan seseorang untuk menjadi pejabat publik, sebutlah misalnya menteri, gubernur atau bupati, dan sebagainya. Karena dengan alat uji inilah, peserta harus menyelesaikan beberapa tipe soal yang diberikan seperti mendengarkan, meresponkan kaidah, membaca, menulis, dan berbicara.

Hasil tes akan berupa skor yang secara otomatis membagi peserta uji berada di antara tujuh tingkatan (grade) yang disediakan, yaitu Istimewa (skor 816-900), Sangat Unggul (717-815), Unggul (593-716), Madya (466-592), Semenjana (346-465), Marginal (247-345), serta Terbatas (162-246).

“UKBI ini diadakan untuk menguji kemahiran Bahasa Indonesia, diharapkan melalui tes ini para peserta bisa berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar,” jelas Joko Subiarto dari Staf Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional di sela Pameran Pendidikan Nasional 2009 di Jakarta, Rabu (12/8).

“Khusus orang Asing, minimal pada tingkat Madya sudah dianggap baik, sedangkan untuk orang Indonesia standarnya adalah pada tingkat Unggul,” tambahnya.

Untuk itulah, hasil UKBI dapat menjadi faktor pertimbangan dalam penerimaan atau pengangkatan pegawai di instansi pemerintah maupun swasta. Karena cara atau teknik UKBI tak ubahnya dengan tes uji kemampuan berbahasa asing seperti halnya TOEFL (Test of English as a Foreign Language) yang selama ini justeru lebih “akrab” di telinga orang Indonesia. Dan, hasil UKBI dapat dijadikan interpretasi yang cermat terhadap kemampuan seseorang dalam berbahasa Indonesia, termasuk kemampuan bernalarnya.

Barometer
Dengan alat ukur seperti UKBI ini, level penguasaan Bahasa Indonesia seseorang tentu bisa didapatkan. Alhasil, jika seseorang ingin meningkatkan lagi kemampuan berbahasanya, ia cukup berdasarkan pada level tersebut untuk mengetahui bagian atau keahlian selanjutnya yang harus dibenahi.

“UKBI dapat dijadikan barometer untuk mengukur kemampuan Bahasa Indonesia oleh orang Indonesia sendiri,” ujar Isdiarto dari bagian Sub Bidang Pengajaran Tim Pengembang UKBI Depdiknas.

Isdiarto menambahkan, UKBI diluncurkan pada 2006 lalu. Rencananya, lanjut dia, UKBI akan dijadikan sebagai salah satu syarat sertifikasi guru oleh Depdiknas. Kelak, masyarakat umum pun termasuk siswa dan mahasiswa, akan mudah didata kemampuan berbahasanya melalui tes ini. Bahkan, kata Isdiarto, tes ini sebetulnya juga sudah bisa dijadikan salah satu alat tes uji masuk perguruan tinggi.

“Kalau di luar negeri alat pengukur kemampuan Bahasa Inggris menggunakan TOEFL, kita pun mestinya bisa memakai UKBI,” ujar Isdiarto.

Sayangnya, kata dia, pembinaan untuk mempersiapkan tes ini menjadi tersebar luas terkesan masih lemah dan minim publikasi. Pembinaan UKBI selama ini masih dilakukan oleh Pusat Bahasa Depdiknas dan beberapa perguruan tinggi negeri meskipun belum semuanya.

Mestinya, kata Isdiarto, perlu dibuka lembaga kursus yang dilakukan oleh pihak swasta. Karena, mirip kursus bahasa asing, UKBI pun mestinya bisa dibuka secara khusus dan terbuka untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia orang Indonesia.

“Kan enak kalau ada lembaga lain bisa juga melakukan tes ini, dan UKBI akan semakin cepat dijadikan standar nasional,” ujarnya.

Sumber : http://www.pustekkom.depdiknas.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: